Minggu, 30 November 2014

Hari ini seseorang bertanya kepada saya, (dalam bahasa jawa) Dia : "mbak sampeyan ga duwe ijazah yo koq kerjo neng kene ?
(note:kebetulan saat itu saya kerja sampingan menjadi seorang operator warnet)
Saya : "haa .. kenapa mbak ?" (sabar meski rasanya seperti digampar)
Dia : (dengan sedikit senyum) "Ngelamar nang nggon liyo poo mbak ambek ijasah SMA?"
Saya : Aku kuliah mbak sekarang, jadi disini cuma nyambi. (berusaha senyum)
Dia : Tapi ambek ijasah SMA sampeyan golek kerjo lain poo mbak?
Saya : Kuliah ku pagi mbak, jadi kalo kerja di tempat lain belum bisa.
Dia : Terus sampeyan mari kuliah ape kerjo nangdi mbak ?
Saya : (meskipun ragu, saya memberanikan diri berkata) InsyaAllah kerja di bank .
Dia : Opo mbak ?
Saya : InsyaAllah di bank mbak .
Dia : (nada menyeloroh) oooooooeeeeeeee ....... (sambil tertawa)

Sejenak saya merasakan sakit. Entah karena diremehkan atau karena keraguannya terhadap kemampuan saya. Disini batin saya merasa terusik. Seolah berkata dengan sedikit menyombong, saya lebih baik daripada anda!
Namun, memang sebenarnya kerja di warnet ini bukan pilihan yang terbaik. Saya seharusnya mencari pekerjaan yang lebih seperti misalnya bekerja pada EO , majalah ,  atau dunia televisi. Namun apa salahnya saya bekerja disini ?
Dalam hati sebenarnya saya juga ingin mencari pekerjaan yang lebih menantang. Dan tanda bahwa saya sebenarnya tidak respect terhadap pekerjaan saya sendiri adalah, saya malu untuk mengakui bahwa saya bekerja disini kepada teman-teman saya.
Dan bagaimana caranya agar saya tidak malu ? adalah dengan membuktikan bahwa dengan bekerja disini, saya mendapatkan nilai lebih dari sini. mendapatkan nilai tambah dari pekerjaan  saya misalnya, dengan bekerja disini saya harus mampu mengetik dengan cepat. Mengetik angka dengan sangat cepat atau bisa dikatakan super cepat. Selain itu harusnya saya mampu belajar tentang program software, install , corel , membuat blog , dan hal-hal lain yang berasal dari keleluasaan saya mengakses internet.
yaa .. seharusnya ada hal yang dapat saya unggulkan disini.
Hingga suatu hari nanti, ketika saya keluar dari sini, saya telah mendapatkan semuanya. Termasuk pengalaman dan link kerja.
Dan setelah perkataan di atas, saya sadar bahwa orang lain akan melihat kita dari hasil pencapaian kita. namun berbeda dengan Allah, Allah akan melihat kerja keras kita dan memberikan hasilterbaik atas semuanya.
Dia (baca:gadis itu) mungkin belum mengenal saya. Dan ketika beliau mengenal saya, mungkin beliau akan mau memperhalus kata-katanya. Keadaan di atas terjadi hanya karena dia tidak mengenal saya dan saya pun tidak mengenalnya dengan baik, dan bahkan namanya pun saya tidak tahu.
Dia hanya lah orang yang kurang mengenal saya, dan apa yang dikatakannya hanyalah pendapat luar yang hanya dia lihat sebatas penglihatan mata luarnya saja.  Dan itu tidak penting. Yang terpenting adalah apa kata orang tua saya, dan apa kata Allah. Karena selama saya bekerja disini, saya tidak melihat adanya keburukan yang saya dapat.
Saya hanya harus membuktikan, bahwa tawanya (baca:tawa gadi itu) itu tidak terbukti. Bahwa tawanya itu adalah energi kesuksesan bagi saya. Hanya itu, karena jawaban terbaik atas pandangan sebelah mata adalah hasil karya dan kesuksesan. Tak perlu banyak kata, karena itu hanya membuang waktumu saja.

Yaa , saya hanya harus sabar dan tekun dalam melakukan segala hal yang saya anggap sebagai peningkatan kualitas diri saya. Sabar , sabar , sabar , baru setelah itu berlari.

Ketika saya malas, saya harus membakar pandangan sebelah mata itu menjadi energi. Energi yang akan terus saya minta setiap saya kehabisan. Jadi intinya telinga saya harus terus mendengarkan perkataan bernada merendahkan seperti itu terus selama kurang lebih 10 tahun ke depan.
Karena maksimal 10 tahun lagi saya akan menikmati karir saya dengan membahagiakan orang-orang disekitar saya. Orang-orang yang membutuhkan saya, keluarga saya , suami , anak , ibu , bapak , aldi, dan semua keluarga besar dari mereka.
Ketika jawaban saya ingin kerja di bank ditertawakan, maka saya akan menjawabnya dengan benar-benar bekerja di bank BRI 1 tahun lagi. Di bank BCA 1 tahun berikutnya. Dan di Mandiri di tahun berikutnya. Hingga menjadi kepala HRD dan analisis keuangan 2 tahun berikutnya. Hingga merintis usaha yang nantinya akan menjadi bekalku untuk membahagiakan semua orang disekitarku termasuk karyawan2 ku.

Terimakasih , semoga lebih sering aku mendengar ini. Hingga pada akhirnya Allah akan lebih sering pula mendengar doa yang setiap kali akan selalu aku panjatkan. Amin

Sabtu, 15 November 2014

Pelajaran Pagi Ini

Baru saja saya ditegur oleh bapak-bapak, beliau mengingatkan bahwa jangan lah saya terlalu emosional. Setiap menghadapi orang-orang yang saya tidak suka, saya selalu saya bersikap tak kooperatif, manyun, emosi dsb. Sikap-sikap buruk itu saya tunjukkan karena saya tidak suka. Padahal saya seharusnya  bisa bersikap lebih baik. Contoh ketika saya berhadapan dengan orang yang meminta saya untuk membantu mengerjakan tugasnya, saya mampu menolaknya namun selalu dengan sikap yang terlihat tidak baik. Mengapa ?
Karena hati dan pikiran saya yang memerintahkan tubuh saya berlaku seperti itu. Seharusnya sebaliknya. Segala sesuatu itu harus mampu dikendalikan sesuai dengan porsinya. Dan mengusahakan berpikir bahwa marah bukanlah hal yang penting dan tidak pernah boleh dilakukan kecuali benar-benar kepepet. Karena marah , manyun tidak akan menyelesaikan masalah. Karena marah dan manyun hanya akan menambah beban untuk diri sendiri. Banyak orang yang akan membenci kita jika kita sering sekali marah, dan akan ada lebih banyak orang yang tidak menyukai kita ketika kita banyak manyun di depan mereka.
Baik itu harus bersifat konsisten, tetap dan sesuai porsinya, tak pernah kurang dan jangan pernah berlebihan. Maka solusinya adalah ketika kamu maranh cobalah untuk menarik bibir membentuk senyuman. Tersenyumlah selebar-lebarnya dan sugesti diri bahwa ketika kamu tersenyum, kamu akan terlihat lebih cantik. Lalu aplikasikan itu ketika berhadapan dengan orang yang sedikit tak kau sukai. Cobalah bersikap ramah, untuk memberikan jalinan pertemanan yang baru. Karena ramah adalah etika yang berlaku mutlak dimanapun berada.
Dan buat saya, teguran bapak tua tadi adalah tamparan pertama dan terkhir buat saya. Mulai saat ini saya dilarang untuk manyun dan marah selelah apapun saya. Saya akan selalu memaksa diri saya untuk tersenyum, sesakit apapun diri saya. Karena kebahagiaan orang lain adalah tujuan saya. Tentang bagaimana kebahagiaan saya ? Maka biarlah Allah yang menentukan.
Ya Allah maafkan saya , saya yang hari ini membuat bapak-bapak itu kecewa. Saya yang pagi ini telah diingatkan oleh orang yang sudah saya kecewakan. Ya Allah terima kasih sudah mengingatkan saya. Dan saya akan berusaha mengingat hal ini, sebenci saya terhadap orang lain, maka tugas saya bukan untuk marah padanya, melainkan mengingatkannya dan tetap bersikap ramah padanya.
Saya mengakui saya salah. Saya mengakui bahwa apa yang saya lakukan, mutlak adalah kesalahan saya. Kesalahan saya dalam menyikapi suatu hal.
Maav saya khilaf dan saya berjanji akan terus berusaha memberikan sikap terbaik untuk orang-orang di sekitar saya dan terutama untuk orang yang saya cintai. :D

Senin, 03 November 2014

Ketika semua harus usai sebelum kita ingin mengakhirinya. Seperti apa rasanya ? Sesak, seolah semua beban berada di pundak dan tak dapat diletakkan walau hanya sejenak.
Ketika dahulu aku memulai perjalanan ini, aku berharap semua akan baik-baik saja. Semua akan berjalan sebagaimana mestinya dan bahkan mungkin lebih baik daripada keadaan pada awalnya.
Namun kini, aku berada di persimpangan yang membuat aku bingung dan harus memilih. Aku terus berjalan pada track perkuliahan, atau lepas dan mencari jalan lain kesuksesan. Entahlah.
Keadaan orang tua membuat aku berpikir ulang, haruskah semua ini saya lanjutkan ? Jujur, beban ini terasa bagi saya ketika saya harus meminta uang orang tua untuk membayar uang semester saya. Jumlah yang bagi saya tidak sedikit karena saya belum mampu mengumpulkannya sendiri.
Bisa kah saya mencari pekerjaan lain yang lebih menghasilkan ? Saya merasa mampu melakukannya.

Meski sampai saat ini saya belum memutuskan untuk berhenti atau lanjut, namun satu yang saya tahu, saya akan tetap sukses apapun jalan yang akan saya pilih kelak. Berhenti atau lanjut tak akan menjadi soal selama saya tak kehilangan semangat untuk berjuang. Saya tidak akan menyerah pada keadaan ini. Saya harus tetap menjadi princess bagi keluarga saya, princess bagi kehidupan saya sendiri, princess bagi  mimpi-mimpi saya. Saya tak akan terlihat lemah dihadapan mimpi-mimpi besar saya. Dan saya pun tak akan pernah terlihat lemah dihadapan orang lain. Kelemahan saya hanya akan diketahui oleh saya dan Allah. Saya akan menangis mungkin hanya di depan Allah, dalam sujud saya. Dan hanya Allah yang akan memberhentikan mimpi saya, hanya Allah yang mampu membuat saya berhenti untuk berharap. Lewat sekolah ataupun jalan lain,saya yakin Allah akan mensukseskan saya. Tugas saya hanya untuk menyiapkan diri saya sebaik mungkin. I'm a princess for my life, I'm a princess for my parents, and I'm a princess for my future.

Happy ever after for me. I hope you always happy, always do your best, and always be the best for all people in around you. :D